semua yang melihat mengatakan perasaan marah kepadaku
tetapi aku tetap aku
aku ingin menjadi penghibur bukan pengacau
aku ingin menjadi penyenang bukan perungsing
tetapi ceriaku mengundang marah kepada mereka…”
Kesusahan dan kesepian hidup yang dirasai oleh Amin bersama ibunya yang kurang pendengaran menjadikan dia seorang kanak-kanak yang nakal. Dia sering melakukan sesuatu untuk mencari keseronokan, sekaligus menghiburkan dirinya dan teman-teman. Namun begitu, caranya sering membawa kekecohan di sekolah dan mengundang kemarahan Cikgu Salina, guru kelasnya yang tegas dan garang. Cikgu Salina menganggap Amin sebagai seorang budak kampung yang selekeh, kotor, nakal dan pemalas. Hakikatnya, di sebalik kenakalan Amin ada sesuatu yang tersembunyi di hatinya. Dan segala rasa yang tersembunyi itu satu persatu dibariskan dalam sebuah sajak. Apakah sebenarnya perkara yang membelenggu diri Amin? Mampukah sajak itu merubah tanggapan Cikgu Salina terhadapnya?
semua yang melihat mengatakan perasaan marah kepadaku
tetapi aku tetap aku
aku ingin menjadi penghibur bukan pengacau
aku ingin menjadi penyenang bukan perungsing
tetapi ceriaku mengundang marah kepada mereka…”
Kesusahan dan kesepian hidup yang dirasai oleh Amin bersama ibunya yang kurang pendengaran menjadikan dia seorang kanak-kanak yang nakal. Dia sering melakukan sesuatu untuk mencari keseronokan, sekaligus menghiburkan dirinya dan teman-teman. Namun begitu, caranya sering membawa kekecohan di sekolah dan mengundang kemarahan Cikgu Salina, guru kelasnya yang tegas dan garang. Cikgu Salina menganggap Amin sebagai seorang budak kampung yang selekeh, kotor, nakal dan pemalas. Hakikatnya, di sebalik kenakalan Amin ada sesuatu yang tersembunyi di hatinya. Dan segala rasa yang tersembunyi itu satu persatu dibariskan dalam sebuah sajak. Apakah sebenarnya perkara yang membelenggu diri Amin? Mampukah sajak itu merubah tanggapan Cikgu Salina terhadapnya?